PII Wati Yogyakarta Besar: Era Post Truth Meresahkan Muslimah

YOGYAKARTA, (SuaraJateng.id)-  Pelajar Islam Indonesia (PII) Wati Yogyakarta Besar mengungkapkan keprihatinan mereka dengan fenomena Post Truth. Fenomena Post Truth ini dibarengi dengan fenomena hoaks yang meresahkan banyak kalangan khususnya bagi kalangan muslimah.

Ketua Korwil PII Wati Yogyakarta Besar, Aisyah Chairil menjelaskan bahwa fenomena Post Truth  yang diiringi oleh fenomena hoaks menyebabkan banyak kalangan resah. Keresahan yang disebabkan oleh adanya arus gelombang informasi yang kebenarannya bersifat subjektif. Oleh karenanya untuk memperingati momentum Sumpah Pemuda yang terjadi pada 28 Oktober 1928 pihaknya sengaja mengadakan diskusi Post Truth (27/10). Hadir sebagai pemantik  diskusi ialah pakar Psikologi Universitas Islam Indonesia (UII),  Dr. Phil Emi Zulaifah, M.Sc.

“ Diskusi kali ini sebagai ajang silaturahmi bagi aktivis muslimah di Yogyakarta, dan kami mengundang sejumlah perwakilan dari masing-masing organisasi gerakan,” ujar Aisyah.

Dia mengutip pendapat Steve Tesich selaku pengguna pertama istilah Post Truth pada tahun 1992. Steve Tesich pada tahun 1992, dia seorang penulis keturunan Serbia-Amerika yang hidup di masa pemerintahan dimana masyarakatnya menerima berita-berita buruk dan mengabaikan berita dan data yang sifatnya objektif.

Indonesia menurut Aisyah sudah mengalami situasi Post Truth terutama pasca tahun 2016. Berbagai peristiwa politik dan pertarungan wacana ialah sesuatu yang tidak bisa dibendung di era media saat ini. Post truth secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah situasi dimana adanya manipulasi atas kebenaran atau dapat dipahami seni dalam berbohong.

Aisyah juga berpendapat bahwa informasi yang dibuat, diedarkan tidak lagi berdasarkan objektifitas. Konteksnya adalah ketika ada data bagus, tapi tidak dapat digunakan untuk mempengaruhi orang lain dikarenakan adanya kebohongan atau manipulasi dalam membingkai informasi. Hal ini bisa berupa penjajahan opini , menjamurnya hoax,  pengalihan isu, penggiringan opini, akibatnya objektivitas  dan kebenaran yang sesungguhnya ditinggalkan.

“Hal ini berdampak pada keputusan dan kebijakan yang dihasilkan lebih cenderung diambilalih oleh emosi yang menjurus pada kebenaran subjektivitas, berdasarkan atas suka tidak suka sehingga kebenaran bukan berangkat dari evidence, data dan objektifitas” tutur Aisyah.

Derasnya arus informasi saat ini menurut Aisyah seperti gelombang besar yang di atasnya terdapat buih yang mudah tersapu air. Sistem pendidikan, seharusnya menjadi dasar kekuatan hari ini dinilainya seperti buih. Sesuatu yang kuat tidak akan terbentuk dengan instan, karena peradaban kuat dan mulia itu dibentuk dengan istiqomah, istiqomah yang tidak hanya sebatas pada konsisten, namun juga membangun eksistensi, bersungguh-sungguh dalam bertindak, berkolaborasi membangun kekuatan dengan sesama.

“Kita patut berhati-hati, karena perdebatan di fenomena buih Indonesia bisa jadi ada yang untung, imbuhnya.

Aisyah berharap agar setiap muslim tidak disibukkan oleh fenomena buih, sehingga tidak melupakan sesuatu yang sifatnya konkrit, turun langsung ke lapangan. Setiap aktivis muslim harus tetap mengkomunikasikan pemikiran real  dan isu untuk menandingi informasi yang beredar. Dia mengajak  para generasi muslim untuk melakukan apa yang bisa dilakukan, jangan sampai kita menari di gendangan yang salah.

Emi Zulaifah pada kesempatan tersebut memberikan sejumlah pesan kepada para aktivis muslimah di era Post Truth. Pertama, membangun konsep yang berbasis evidence, konsep yang baik dan berbasis data bukan pada kepentingan dan keuntungan. Kedua, menuntut ilmu yang melewati proses tazkiah (penyucian) sehingga mengantarkan kita pada hikmah, karena kelemahan kita di Indonesia hari ini adalah sedikit sekali di negeri ini yang mampu mengambil hikmah, sehingga wajar bencana alam terjadi dimana-mana padahal tugas kita adalah untuk menjaga lingkungan dan bumi ini (Khalifah). Ketiga, kesuksesan dan kemenangan tidak akan diperoleh kalau tidak menyucikan jiwa kita, kalau Tazkiyah itu ada, maka kita akan cenderung menjadi orang yang berhati-hati, tidak termakan opini yang salah apalagi terjebak pada berita yang salah.

“Beruntunglah masih bisa bersinggungan dengan kehidupan sosial masyarakat, karena sesuatu yang kuat tidak akan pernah dibangun dari cara yang instan, maka nikmati dan maksimalkanlah proses selama menjadi aktivis, karena masa depan kita yang menentukan” pungkas Emi Zulaifah.

Reporter: Kukuh Subekti

Editor: Tori Nuariza

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.