Bersama Dai Salimah, SMA Negeri 1 Polokarto Sampaikan Efek Negatif Budaya ‘Valentine’

SUKOHARJO, (SuaraJateng.id) — Bulan Februari menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh sebagian besar penduduk di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia, pasalnya, di setiap tanggal 14 Februari mereka mempunyai momentum yang dirayakan setiap tahun yakni hari kasih sayang atau istilah yang lebih populer yakni ‘Valentine Day’.

Sebagian besar remaja menjadikan ‘Valentine Day’ untuk mengekspresikan kasih sayangnya kepada pasangannya, mulai dari pemberian coklat, setangkai bunga, tukar kado hingga jalan jalan berdua menjadi kebiasaan yang dilakukan para remaja untuk ikut larut dalam perayaan hari Valentine yang sejatinya adalah budaya barat dan tak sesuai dengan Islam.

Budaya perayaan hari Valentine saat ini lebih banyak membuat efek negatif pada remaja itu sendiri, di tahun 2018 aparat kepolisian di sejumlah daerah yang melakukan razia razia pun banyak menemukan para remaja melakukan hal negatif dan menyalahi aturan.

Mulai dari konvoi ugal-ugalan dijalan, mabuk mabukan, hingga memakai narkoba dan perilaku seks bebas banyak dilakukan remaja yang terjaring razia oleh aparat kepolisian dan satpol PP. Hal itupun yang membuat sebanyak 15 kota di tahun 2016 melarang secara resmi kepada warganya untuk ikut merayakan Valentine Day.

Upaya Penanggulangan

Selain himbauan resmi dari pemerintahan kota di sejumlah daerah, ormas keagamaan hingga instansi pendidikan pun melakukan sosialisasi terkait maraknya perilaku kenakalan remaja yang dilakukan di setiap tanggal 14 Februari.

Seperti yang dilakukan oleh SMA Negeri 1 Polokarto Sukoharjo yang menggandeng tim Dai Salimah Sukoharjo dan Street Qur’anic Dakwah (SQD) Ponpes Salman Al Farisy pada Jum’at, (8/2/2019). Mereka melakukan aksi “dakwah on the school” bertajuk ‘Say No To Valentine’ di SMA Negeri 1 Polokarto.

Kepala sekolah SMA Negeri 1 Polokarto Sri Mulyono mengatakan, kegiatan yang rutin diadakan setiap tahun itu bertujuan untuk mencegah anak didiknya untuk ikut merayakan budaya yang tak sesuai dengan bangsa dan Agama yakni perayaan hari kasih sayang atau yang lebih dikenal dengan ‘Valentine Day’.

“Untuk membekali anak anak agar tidak ikut ikutan merayakan hari Valentine, momen ini kita gunakan untuk mencounter media media sosial dan media televisi yang mengajak merayakan valentine day,” tukasnya.

Aksi yang dikemas dengan acara kajian dan penjelasan sejarah munculnya budaya perayaan hati Valentine itu cukup membuat lebih dari 500 siswa-siswi SMA itu memperhatikan pemateri dengan seksama.

“Kok saat ini masih marak dirayakan, padahal masih minta uangnya ke orang tua, kita masih ikut ikutan merayakan seperti itu, padahal dulu orang kristen merayakan hari itu sebagai hari kematian, si santo itu,” pungkas Ustadz Kelik, Founder SQD dihadapan ratusan siswa.

“Jadi mereka sebenarnya mengenang hari kematian, bukan kasih sayang,” imbuhnya.

Siswa Siswi SMA Negeri 1 Polokarto ini pun memberikan tanggapannya terkait budaya perayaan Valentine yang bertentangan dengan adat budaya yang dianut Indonesia yakni ketimuran.

“Menurut saya budaya Valentine Day itu merusak generasi muda Indonesia,” ujar Ika Wahyu Dwiyanti salah satu murid SMA Negeri 1 Polokarto.

“Menurut saya Valentine Day itu harus ditinggalkan karena merusak proses belajar kita, sebaiknya harus diganti dengan pengajian pengajian,” tutur Endah Sri Lestari.

Sementara itu, Ketua Dai Salimah Sukoharjo mengaku akan terus melakukan aksi sosialisasi terkait bahayanya ikut merayakan budaya yang diharamkan dalam Islam itu.

“Ini merupakan salah satu program dakwah dari DAI Salimah, dan umat Islam dilarang mengikuti budaya suatu kaum yang itu bertentangan dengan Islam,” pungkasnya.[Arie Ristyan]

.

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.