Langen Beksan Nemlikuran, Lestarikan Tari Tradisi

SOLO, (Suarajateng.id).  Satu demi satu para pakar tari tradisi berguguran. Di sisi lain, dan minat generasi muda untuk mempelajari seni tari tradisi masih minim. Kondisi ini mengundang keprihatinan para pegiat tari tradisi sehingga mendirikan Komunitas Langen Beksan Nemlikuran.

Komunitas Langen Beksan Nemlikuran berdiri tahun 2003 silam di Solo. Nama Langen Beksan Nemlikiran lekat dengan perayaan hari jadi SMKN 8 Surakarta, yang jatuh  pada tanggal 27 Agustus. Tanggal Nemlikur atau dalam bahasa Indonesia tanggal dua puluh enam ini merupakan malam midodareni hari jadi SMK N 8 Surakarta.

Sejak saat itu Langen Beksan Nemlikuran mengukuhkan komitmennya dalam pelestarian tari tradisi. Pentas rutin bulanan digelar pada tanggal nemlikur (dua puluh enam) di pendopo SMK N 8 Surakarta.

Daryono, Ketua Komunitas Langen Beksan Nemlikuran mengungkapkan, sejak berdiri komunitas ini sangat minim dukungan. Belum adan pihak yang mengundang para pengurus Langen Beksan Nemlikuran menjadi pengisi lokakarya atau diklat tari. Tak hanya sepi dari dukungan masyarakat, dukungan pemerintah juga dinilai kurang.

“Padahal komunitas ini didirikan orang yang ahli dan dalam hal dunia tari.,” ujar Daryono ” ujarnya Senin (4/10/2018)

Menurut Daryono, banyak orang menganggap seni tari tidak akan menjanjikan keuntungan materi. Akhirnya, orang tua tidak lagi menyuruh anaknya untuk belajar menari dan fokus pada tugas-tugas akademik. Padahal keberadaan Langen Beksan Nemlikuran ini sangat berguna bagi dunia pendidikan. Anak anak bisa melihat cara menari yang baik dan benar.

Di sisi lain, pemerintah daerah belum memberikan bantuan untuk pelestarian tari tradisi yang dilakukan Langen Beksan Nemlikuran. Komunitas akhirnya  mengandalkan iuran sukarela untuk penyelenggaraan pentas tari tradisi.

“Setiap kali pentas ada minimal enam tarian, jadi selama hampir lima  belas tahun ini sudah ada ratusan karya yang dipentaskan,” ungkapnya

Daryono berharap, Langen Beksan Nemlikuran dapat berkembang sebagai kawah candradimuka dalam mempelajari tari tradisi, khusnya generasi muda. Dengan demikian, regenerasi penari untuk  seni tari tradisi tidak mengalami keterputusan. (arief)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.